Komunikasi Lintas Budaya
Nama : Muhammad Rahman
Nim. : B05219027
Semester/prodi : 3/ Ilmu
Komunikasi
Dosen : Abu Amar Bustomi, M.Si
PENGERTIAN KOMUNIKASI LINTAS
BUDAYA
Membahas
tentang pengertian komunikasi lintas budaya, jadi yang dimaksud dengan
komunikasi lintas budaya, komunikasi lintas budaya merupakan suatu komunikasi
yang dilakukan dengan latar belakang komunikan dan komunikator yang berbeda dan
dapat menimbulkan suatu kesalahan pengertian sehingga menghasilkan respon yang
berlawanan dengan suatu tujuan. Untuk menghindari hal tersebut maka antata
komunikan dan komunikator perlu merubah cara pandang baru dalam memahami
perbedaan. Di dalam komunikasi antar budaya kita bisa mempelajari dan memahami
apa yang berbeda darinsetiap individu atau kelompok dan saling menghargai dan
menghormati setiap budaya. Setelah itu kita disuruh menyimak video yang ketiga
video tersebut menjelaskan untuk menghindari
hal tersebut maka antata komunikan dan komunikator perlu merubah cara pandang
baru dalam memahami perbedaan. memberitahu
kita tentang kode - kode etik setiap manusia juga perbedaan kebiasaan budaya
setiap daerah ,kita sebagai komunikator harus bisa menghargai/menjaga sikap
kita terhadap komunikan saat sedang berkomunikasi ,untuk video yang ke 4 poin
yang bisa saya ambil yakni kita harus bisa memposisikan diri dengan
mempersiapkan untuk mempelajari tentang bagimana refrensi lawan bicara kita,
agar supaya ada pengurangan ke tidak pastian saat kita berkomunikasi atau bisa
disebut dengan istilah nyambung/saling memahami saat berkomunikasi dengan orang
yang memiliki pengetahuan lebih luas dari kita Ketika proses
komunikasi terjadi maka kita harus tau lawan bicara kita, agar sama sama nyaman
dan nyambung. Jika kita sudah memahami lawan bicara maka komunikasi tersebut
bisa berjalan dengan lancar. dan orang yg berwawasan luas maka akan mudah
mencari topik dengan orang manapun.
DEFINISI
RUANG LINGKUP DAN DIMENSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Membahas
tentang definisi ruang lingkup dan dimensi komunikasi lintas budaya
Definisi komunikasi lintas budaya
adalah ketika 2 orang atau lebih yang berasal dari berbeda daerah,ras,suku,dan
agama melakukan sebuah proses komunikasi yang membahas tentang satu tema yang
dipertentangkan.
Ruang lingkup: komponen-kompenen budaya
disiplin yang menelaah komponen-komponen budaya antropologi budaya, sehingga
penelitian komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam
mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asamte mengemukakan
beberapa komponen budaya yang penting:
1 Kompomen pandangan Dunia. Setiap budaya
punya bagaimana yang dalam memandang dunia dalam memahami, menafsirkan dan
menilai dunia. Ketika komunikasi kintas budaya terjadi, pandangan dunia akan
mempengaruhi penyandian dan pengalihasandian. Pandanga dunia juga dapat dipakai
untuk mendiagnosis "kenisingan" yang terjadi dan menunjukkan
"terapi"-nya.
2 Kompomen kepercayaan. Salag satu
unsur kepercayaan yang sangat penting dalam komunikasi lintas budaya adalah
citra kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita
dalam mengembangkan diri dengan orang yang citranya kita miliki. Citra
menentukan desain pesan komunikasi kita.
3 Komponen nilai. Sistem nilai masyarakat
dalam budaya mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan
kategori nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, niqli religius, nilai
ekonomis, nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial.
Dimensi : Ada tiga (3) dimensi yang perlu
diperhatikan untuk sampai pada pemahaman. Tentang kebudayaan dalam konteks
komunikasi antar budaya
1. Tingkat masyarakat kelompok budaya
dari para partisipan. Istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada
macam-mqcam tingkat lingkupan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Contoh:
kawasan-kawasan dunia, misal: budaya timur dan budaya barat.
2. Konteks sosial tempat terjadinya
komunikasi antar budaya. Misal, konteks sosial komunikasi antar budaya pada:
organisasi, bisnis, pendidikan dan politik.
3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan
komunikasi antar budaya (baik yang bersifat verbal maupun non verbal). Dimensi
ketiga berkaitan dengan saluran komunikasi. Secara garis besar, saluran
tersebut dapat dibagi menjadi dua, pertama antar pribadi/orang kedua melalui
media massa.
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN KOMUNIKASI INTERNASIONAL
Membahas
tentang komunikasi lintas budaya dan komunikasi internasional.
Komunikasi
internasional adalah bentuk dari
hubungan politik antar negara dalam ranah internasional. Komunikasi
internasional digunakan sebagai representasi komunikasi sebuah negara dalam
mempengaruhi perilaku politik negara lain yang terkait. Yang termasuk kepada
ranah komunikasi internasional pada penjelasan ini adalah propaganda,
diplomasi, pertahanan, dan informasi serta tidak memasukkan penyebaran agama
dan pendidikan di dalamnya. Beberapa kriteria yang menjadi ciri khas komunikasi
international:
1 Isu yang ada dalam komunikasi internasional memiliki jenis
isu yang bersifat global, mencakup isu-isu yang menjadi fokus banyak negara.
2 Para pelaku komunikasi yang ada di dalamnya, yaitu
komunikator dan komunikan atau pemberi dan penerima pesan, memiliki kebangsaan
yang berbeda satu sama lain. Atau dengan kata lain, para pelaku komunikasi
internasional berasal dari negara yang berbeda-beda.
3 Sarana yang menjadi saluran media yang digunakan dalam
proses komunikasi internasional pun bersifat internasional dan berada dalam
ranah global.
Berikut
adalah beberapa fungsi komunikasi internasional dalam penerapannya:
1 Membangun dan mempererat hubungan internasional antar
negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari berbagai konflik, baik
konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik pemerintahan dengan
masyarakat pada suatu negara.
2 Membangun dinamisme hubungan antar negara dan menjalin
hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian dan fokus di berbagai
bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara maupun antar negara.
3 Berperan sebagai
pendukung pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas pada
negara-negara yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama lain.
Perspektif komunikasi internasional
1 Perspektif diplomatik, yang sesuai dengan namanya berarti
diplomasi yang dilakukan antar negara.
2 Perspektif jurnalistik, yang sesuai dengan namanya maka
perspektif ini dilaksanakan melalui saluran atau channel media massa.
3 Perspektif propogandistik yang memiliiki sedikit kesamaan
dengan perspektif jurnalistik, yaitu menggunakan kekuatan media massa. Namun
perbedaannya adalah perspektif propogandistik lebih mengacu kepada penyebaran
dan penanaman ide serta gagasan milik satu negara kepada masyarakat di negara
lain untuk dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan mereka.
Teori -teori komunikasi internasional:
1. Komunikasi arus bebas Teori
ini berkenaan dengan arus informasi yang muncul secara bebas. Teori ini lahir
ketika menjelang akhir perang dunia ke 2 dan bermula di negara Amerika Serikat.
Secara dasar teori ini sebenarnya menjelaskan tentang adanya pasar bebas dan
liberal yang diperjuangkan oleh para pemilik media untuk mendapatkan hak-hak
mereka dalam menjual atau membagikan informasi secara bebas.
2. Teori Modernisasi Teori modernisasi ini muncul
dari gagasan bahwa komunikasi massa internasional digunakan sebagai model
menyebarkan ekonomi dan politik yang modern ( negara maju/barat) kepada negara
yang dianggap tradisional (negara-negara berkembang). Teori Modernisasi ini
adalah teori pembangunan yang menyatakan bahwa pembangunan dapat dicapai
melalui mengikuti proses pengembangan yang digunakan oleh negara-negara
berkembang saat ini. Teori ini mendefinisikan kualitas yang membedakan
"modern" dan "tradisional" masyarakat. Pendidikan dilihat
sebagai kunci untuk menciptakan individu modern. Teknologi memainkan peran
kunci dalam teori pembangunan karena diyakini bahwa teknologi ini dikembangkan
dan diperkenalkan kepada negara-negara maju yang lebih rendah akan memacu
pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor kunci dalam Teori Modernisasi adalah
keyakinan bahwa pembangunan memerlukan bantuan dari negara-negara maju untuk
membantu negara-negara berkembang untuk belajar dari perkembangan mereka.
Dengan demikian, teori ini dibangun di atas teori bahwa ada kemungkinan untuk
pengembangan yang sama dicapai antara negara maju dan dikembangkan lebih
rendah.
3. Teori Ketergantungan Teori yang muncul di Amerika
latin pada akhir 1970an ini memiliki berbagi penjelasan, teori ini sejatinya
bertujuan untuk memperkuat dominasi negara maju dan mempertahankan negara
berkembang dalam posisi ketergantungan.
4. Imperialis Struktur Merupakan teori yang
berpandangan mengecam dominasi negara maju terhadap negara berkembang.
Tujuannya untuk mempersoalkan keterbelakangan dan pembangunan negara dunia
ketiga dan menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya negara maju dalam
berskala global.
5. Teori Hegemoni Dalam Komunikasi internasional
hegemoni ini digunakan untuk mengkonseptualisasikan fungsi politik media massa
sebagai konsep dasar dalam menyebarkan dan mempertahankan ideologi yang dominan
kepada negara yang didominasi. Hegemoni dapat diartikan sebagai konsep
penguasaan secara halus suatu negara terhadap negara lain terkait dengan
berbagai aspek. Media massa internasional sangat berpengaruh didalam memperkuat
konsep hegemoni ini terlebih oleh negara-negara maju terhadap negara
berkembang.
6. Teori Kritik Merupakan pemikiran yang menekankan
penilaian refleksi dan kritik dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan
pengetahuan dari ilmu-ilmu sosial humaniora. Humaniora adalah ilmu yang
mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih
manusiawi dan berbudaya.
7. Ruang Publik Teori ini menjelaskan tentang adanya
ruang didalam berkomunikasi melalui dunia nyata dan dunia maya, ruang publik
ini memiliki berbagai cakupan yang sangat luas seperti halnya saat konferensi
pers, adanya acara besar seperti acara Asian Games, pertemuan PBB dengan
diiringi komunikasi dalam media sosial terkait hal yang sedang populer secara
global.
8. Wacana Globalisasi Wacana globalisasi adalah
sebuah proses masuk ke ruang lingkup dunia secara sistematis dan masuk akal.
Wacana globalisasi ini dapat ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi suatu negara sehingga ia mampu berpengaruh mengubah
dunia secara mendasar. Wacana globalisasi ini sangat berhubungan dengan
komunikasi internasional dimana komunikasi internasional ini sangat memerlukan
media yang dapat menghubungkan satu negara dengan negara lain(global).
MODEL KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA.
Membahas
tentang model komunikasi lintas budaya.
Teori Komunikasi lintas budaya -“Face Negotiation Theory”
Untuk menyampaikan makna tertentu, manusia menggunakan pesan verbal dan non
verbal. Salah satu pesan non verbal yang digunakan adalah pesan fasial atau air
muka. -“Expentancy Violations Theory” “Expectancy Violations Theory” mencoba
menguraikan perilaku manusia yang tidak terduga saat mereka berinteraksi. Teori
ini menitikberatkan pada proses komunikasi yang dipengaruhi oleh norma serta
budaya yang dianut dan dijadikan sebagai patokan. -Teori Akomodasi Komunikasi
menitikberatkan pada strategi individu untuk mengurangi atau menambah jarak
komunikatif yang bergantung pada norma dan budaya yang
dianut. Conversational constraints theory” teori ini menjelaskan perbedaan
strategi percakapan yang dimiliki oleh masing-masing budaya dan dampak yang
ditimbulkan oleh perbedaan tersebut. teori tsb dijelaskan oleh Min-Sun Kim.
-“Anxiety/Uncertainty Management Theory” Fokus dari teori ini adalah perbedaan
budaya yang terdapat dalam suatu kelompok atau orang asing. Rasa kecemasan dan
ketidakpastian menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif. Komunikasi yang
efektif dapat terjadi apabila komunikator dapat mengelola kecemasan dan
ketidakpastian tersebut dengan tepat.
Proses Komunikasi Menurut Courtland L. Bovee dan John Thil
ada lima tahap proses komunikasi yakni:
1. Pengirim mempunyai suatu ide/gagasan
2. Ide diubah menjadi suatu pesan
3. pemindahan pesan
4. penerima menerima pesan
5. penerima memberi tanggapan.
Model Komunikasi Budaya mempengaruhi prilaku komunikasi
individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi
yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain
yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator
akan berubah mengikuti persepsi budaya komunikan.
HAKIKAT
DAN UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Membahas
tentang hakikat dan unsur komunikasi lintas budaya.
1. Enkulturasi Mengacu pada proses dengan mana kultur
ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana mempelajari
kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan
melalui gen. Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga
pemerintahan merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Enkulturasi terjadi
melalui mereka.
2. Akulturasi Mengacu pada proses dimana kultur seseorang
dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Menurut
Kim, penerimaan kultur baru bergantung pada sejumlah faktor. Imigran yang
datang dari kultur yang mirip dengan kultur tuan rumah akan terakulturasi lebih
mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan lebih terdidik lebih cepat
terakulturasi daripada mereka yang lebih tua dan kurang berpendidikan
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta:
Professional books, 1997), hlm. 479. Unsur komunikasi mneurut laswell; -siapa,
komunikator menyampaikan -menyatakan apa, pesan -melalui saluran apa, melalui
media -kepada siapa, ke komunikan -dengan effect apa. menghasilkan efek Jadi,
Komunikator menyampaikan pesan melalui media kepada komunikan dan menghasilkan
efek. komunikator: perorangan, kelompok, organisasi/lembaga pesan: verbal (kata
kata), non-verbal (simbol). wujud pesan: lisan/bunyi, gambar/warna, gerak/mimik,
bau, jarak. media: primer(gerak,bahasa), sekunder. media massa: cetak,
audio/radio, televisi, gabungan(konvergen). komunikan: perorangan, kelompok,
publik, massa, lembaga. Jenis komunikasi: antar persona, kelompok, publik,
organisasi, massa, sosial. efek/akibat: relasi,informasi, pengetahuan,
pendapat, sikap, perilaku, sosial. jenis efek: efek yang direncanakan(tujuan),
efek yang dicapai(hasil), efek samping(diluar rencana).
BUDAYA,
SUB BUDAYA, DAN KONTEKSTUALISASI
Membahas tentang budaya dan kontekstualisasi sub budaya
1. Budaya:
budaya adalah suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau
masyarakat dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi
berikutnya. Budaya mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Budaya
mempengaruhi agama, politik, adat istiadat, bahasa, bangunan, pakaian, bahkan
dalam suatu karya seni tak lepas dari pengaruh budaya. Berdasarkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia pengertian dari budaya adalah sesuatu yang berasal dari
pikiran, adat istiadat, kebudayaan yang berkembang ataupun kebiasaan yang sulit
untuk diubah.
Pengertian
Budaya Menurut Para Ahli
1
Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski, mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
2
Herskovits, memandang kebudayaan sebagai
sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang
kemudian disebut sebagai superorganic.
Bermacam definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa
kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, serta
meliputi sistem ide atau sebuah gagasan yang ada dalam pikiran seorang manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan suatu perwujudan kebudayaan merupakan benda-benda yang diciptakan
oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang berupa prilaku, serta
benda-benda yang bersifat nyata, sebagai contoh pola perilaku, peralatan hidup,
bahasa, organisasi sosial, seni, religi, dsb, yang semuanya yang keseluruhannya
ditujukan untuk membantu manusiad dalam melangsungkan kehidupan dalam
bermasyarakat.
Unsur-Unsur
Budaya, ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau
unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut :
a.
Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
1.Alat-alat
teknologi
2.Sistem
ekonomi
3.Keluarga
4.Kekuasaan
politik
b.
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
1.Sistem
norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk
menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
2.Organisasi
ekonomi
3.Alat-alat,
dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah
lembaga pendidikan utama)
4.Organisasi
kekuatan (politik)
2. Sub
Budaya : menurut ilmu sosiologi Sub Budaya atau Sub Kultur adalah sekelompok
orang dan sekelompok orang lainnya yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang
berbeda dengan kebudayaan leluhur mereka. Subkultur juga bentuk perlawanan
terhadap budaya mainstream, jika kita mengacu pada beberapa literatur tentang
subkultur, para pengamat budaya mendefinisikan istilah ini dengan sederhana,
yaitu sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda
dengan kebudayaan induk atau mainstream (Martono, 2009: 10). Jika seseorang
dikatakan sebagai ‘anggota’ dari suatu subkultur tertentu, maka hal tersebut
bisa ditunjukkan melalui gaya hidup dan penggunaan simbol-simbol tertentu dalam
hal berpenampilan maupun berkomunikasi.
3. Kontekstualisasi
: Kontekstualisasi adalah usaha menempatkan sesuatu dalam
konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan
keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi
kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut
berbicara. Karakteristik interaksi yang menentukan konteks:
A.
Komunikasi antar pribadi.
B.
Komunikasi kelompok.
C.
Komunikasi organisasi.
D.
Komunikasi publik.
Istilah kontekstualisasi
pertama kali dicetuskan oleh Aharon Sapaezian dan Shoki Coe, kepada directur
theological Education Fund WCC pada tahun 1972. Karena menilai bahwa
indegenesasi teologi (memaksa budaya lokal untuk menyesuaikan budaya lain)
tidak memadai, maka konsep kontekstualisasi diangkat untuk mengusahkan
indegenesasi teologi dengan menerima input proses sekularitas, teknologi, serta
penrgumulan demi hak asasi manusia yang merupakan "The Historical Moment
of Nations in the Third Word". Lalu faktor-faktor yang menimbulkan
kontekstualisasi ialah, dominasi budaya, teologi yang tidak relavan,
gerakan-gerakan yang tidak nasionalisme. Dan yang terkahir 3 bidang cakupan
kontekstualisasi:
1. Kontesktualisasi orang yang
menyampaikan/sumber kesaksian itu sendiri.
2. Kontekstualisasi masyarakat
dan pemimpinnya.
3. Kontekstualisasi firman.
LANJUTAN DARI PEMBAHASAN
BUDAYA, SUB BUDAYA, DAN KONTEKSTUALISASI
Pada
pertemuan kali ini membahas tentang 3 anak yang mempresentasikan videonya dan
meringkasnya
Pemateri 1, Alfareza Zuha Pahlevi
Pengertian budaya, budaya sebagai tradisi atau adat istiadat. Ada juga yang
mengatakan budaya sebagai interaksi sosial antara individu dan individu yang
lain. Sub budaya, budaya yang ada di dalam suatu masyarakat/ pembagian budaya
yg di bagi menjadi beberapa yang lebih kecil. Tumbuh dr adanya kelompok yang
ada di dalam masyarakat. Sub budaya bisa tumbuh dari adanya kelompok-kelompok
di dalam suatu masyarakat. Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan
karakteristik social, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan
karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel demografi tersebut, kita bisa
mendapatkan sub budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang. Cabang
budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh kelas social yang ada dalam masyarakat. Kelas
social menunjukkan adanya kelompok-kelompok yang secara umum mempunyai
perbedaan dalam hal pendapatan, gaya hidup dan kecenderungan konsumsi. Kelas
Sosial dapat ditentukan dari :
a.
Keluarga,
ini sangat berpengaruh terhadap budaya seseorang, diamana kebanyakan orang akan
terbawa atau mengikuti budaya dari keturunan.
b. Pekerjaan, mempengaruhi gaya hidup dan
merupakan basis penting untuk menyampaikan prestise, kehormatan dan respect.
c. Pemilikan, simbol keanggotaan kelas, tidak
hanya jumlah pemilikan, tetapi sifat pilihan yang dibuat. Keputusan pemilikan
yang mencerminkan kelas social suatu keluarga adalah pilihan dimana untuk
tinggal.
d. Orientasi Nilai. Nilai kepercayaan
bersama mengenai bagaimana orang harus berperilaku- menunjukkan kelas social
dimana seseorang termasuk di dalamnya. Kontekstualisasi : Usaha menempatkan
sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan
menyatu dengan keseluruhan. Faktor yang menimbulkan kontekstualisasi a.
Dominasi Budaya b. Teologi tidak relevan, artinya satu pemikiran orang dengan
pemikiran lainnya tidak selaras. c. Gerakan nasionalisasi.
Pemateri
2, Nur Zaenal Abidin Definisi budaya sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu
yang berkaitan dengan budi, akal manusia, kebiasaan, tingkah laku, dan adat
istiadat. Budaya tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat daerah, serta
terus diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Fungsi-fungsi budaya a. Menjadi representasi suatu daerah atau
wilayah tertentu. b. Sebagai pedoman hubungan manusia atau kelompok. c.
Memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. d. Sebagai media berkomunikasi dengan
individu atau kelompok lain. e. Mendorong terjadinya perubahan masyarakat. f.
Menjadi identitas bangsa secara nasional. Unsur- unsur budaya a. Bahasa, media
bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi secara lisan atau verbal. b. Sistem
pengetahuan, pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan sifat-sifat
peralatan yang digunakannya. c. Sistem teknologi dan peralatan, cara seorang
dalam mengelola dan mengumpulkan bahan-bahan mentah hingga menjadi bahan pakai.
d. Kesenian, hasil karya manusia yang mengandung sisi estetika dan keindahan.
e. Sistem mata pencaharian dan ekonomi, yakni segala usaha atau upaya manusia
untuk medapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan. f. Religi, sistem yang terpadu antara
keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. g.
Sistem kekerabatan dan organisasi kemasyarakatan, sekelompok masyarakat yang
anggotanya memiliki kesamaan satu sama lain dalam suatu sistem kekerabatan
tertentu. Sub budaya adalah pola pola kultural yang menonjol, dan merupakan
bagian atau segmen dari populasi masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks
(Ristiyanti dalam macionis,2004) Makna dari teknologi kontekstualisasi
yakni teologi kontekstualisasi dengan sungguh-sungguh sangat memperhatikan
konteks sejarah dan budaya dimana seorang hidup dan berkarya. Teologi
kontekstualisasi harus mampu menafsir dan membangun.
Pemateri 3, Muhammad Adam Yusuf Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan sangat
erat hubungannya dengan masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat
diperoleh pengertian bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi
tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam
pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan
oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda
yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,
organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Subbudaya
adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda
dengan kebudayaan induk mereka, budaya induk adalah kebudayaan yang what
majority belief. Kontekstualisasi adalah usaha menempatkan sesuatu dalam
konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan
keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi
kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut
berbicara. Hal ini erat kaitanya dengan berkomunikasi antar sesama. Apalagi
dimasa pandemic seperti rentan terjadi perbedaan ketika berkomunikasi karna
kita tidak melihat lawan bicara kita secara langsung.
Budaya Konteks Tinggi Rendah
Pada
umumnya, komunikasi konteks-rendah ditujukan pada pola komunikasi mode lisan
langsung (direct verbal mode)- pembicaraan lurus, kesiapan non verbal
(nonverbal immediacy) dan mengirim berorientasi nilai (sender-oriented values).
Pengirim bersikap tanggung jawab untuk menyampaikan secara jelas. Dalam
komunikasi konteks rendah, pembicara diharapkan untuk lebih bertanggung jawab
untuk membangun sebuah kejelasan, pesan yang meyakinkan sehingga pendengar
dapat membaca sandi (decode) dengan mudah. Dalam perbedaannya, komunikasi
konteks tinggi menunjukkan pada pola komunikasi dari mode lisan tidak langsung
(indirect verbal mode)- bicara menghapus diri (self-effacing talk), kepelikan
nonverbal, dan nilai sensitif penerjemah. Penerjemah atau penerima pesan
mengasumsikan tanggung jawab untuk menyimpulkan atau menduga maksud atau arti
yang termasuk atau yang tersembunyi dalam pesan. Dalam komunikasi konteks
tinggi, penerima pesan atau pendengar diharapkan untuk "memahami yang
tersirat" untuk dengan teliti disimpulkan atau menduga tujuan tersembunyi
atau terkandung dari pesan lisan, dan untuk mengamati nuansa nonverbal dan
kepelikannya dan meningkatkan pesan lisan itu (Ting-Toomey, 1999 : 100-101)
Gaya Konflik Budaya Konteks Tinggi Rendah
Gaya konflik merupakan faktor keempat dalam
konflik antarbudaya. Gaya konflik merefleksikan kecenderungan orang untuk
menggunakan kesamaan taktik konflik dalam konteks berbeda atau dengan orang
berbeda. Gaya konflik mewakili kecenderungan kebiasaan untuk penanganan
perselisihan paham, dan digunakan tanpa banyak pikir. Suatu pandangan lebih
dari gaya konflik didasarkan pada gagasan di mana metode seorang individu dalam
penanganan konflik mencerminkan dua dimensi : 1. tingkat dimana seseorang ingin
mencukupi gol miliknya dan 2. tingkat dimana seseorang akan mencukupi gol orang
lain (Canary, 1997:48).
Beberapa studi sudah menetapkan
orang-orang dari nilai bersifat individualistik cenderung lebih memperhitungkan
menyelamatkan harga diri (selfestem) mereka sendiri selama konflik berlangsung,
lebih langsung dalam komunikasi mereka dan lebih menggunakan controlling,
confrontational, dan orientasi solusi dalam gaya pengelolaan konflik.
Sebaliknya, orang dari masyarakat kolektivistik lebih fokus dalam menyelamatkan
harmoni kelompok sekaligus menyelamatkan harga diri orang lain selama konflik.
Mereka menggunakan sedikit gaya conversational langsung dan memilih menggunakan
gaya konflik avoiding dan obliging (Nakayama, 2004:382-385).
Tinggi
Komunikasi konteks tinggi merupakan
komunikasi di mana sebagian besar informasi diketahui orang tersebut, dan hanya
sedikit yang dibagikan sebagai bagian dari pesan (Samovar, Porter and McDaniel,
2010, p.257). Dengan kata lain, arti dari informasiy ang dipertukarkan selama interaksi tidak
harus dikomunikasikan dengan kata-kata. Dalam budaya konteks tinggi, komunikasi
difokuskan lebih kepada bagaimana pesan tersebut disampaikan daripada apa yang
dikatakan serta waspada terhadap isyarat nonverbal.
Dalam budaya konteks tinggi,
komunikasi yang dilakukan cenderung kurang terbuka, mereka menganggap konflik
berbahaya pada semua jenis komunikasi (Samovar, Porter and McDaniel, 2010,
p.257). Bagi masyarakat yang menganut budaya ini, konflik dipandang harus
dihadapi dengan hati-hati. Beberapa negara yang tergolong menganut budaya ini
adalah Amerika Indian, Amerika Latin, Jepang, China, Afrika-Amerika, Korea,
termasuk Indonesia (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.258).
Rendah
Komunikasi konteks rendah merupakan
komunikasi yang mana jumlah informasi lebih besar dari yang disampaikan. Atau,
dalam komunikasi konteks rendah, pesan verbal mengandung banyak informasi dan
hanya sedikit yang tertanam dalam konteks atau peserta (Samovar & Porter,
2010, p.257).
Contoh masyarakat konteks rendah
adalah masyarakat Amerika yang lebih bergantung pada perkataan yang diucapkan
dibanding perilaku nonverbal untuk menyatakan pesan. Beberapa negara yang
tergolong menganut budaya konteks rendah adalah Jerman Swiss, Skandinavia dan
Amerika Utara (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.258).
Teori Interaksi Simbol
Teori Interaksionalisme Simbolik
merupakan perspektif teoritis Amerika yang nyata dikembangkan oleh para ilmuan
pskologi sosial di universitas Cicago, ini merupakan perspektif yang luas
daripada teori yang spesifik dan berpendapat bahwa komunikasi manusia terjadi
melalui pertukaran lambang-lambang beserta maknanya perilaku manusia dapat
dimengerti dengan mempelajari bagaimana para individu memberi makna pada
informasi simbolik yang mereka pertukarkan dengan pihak lain.
George Herbert Mead, yang dikenal sebagai
pencetus awal Teori Interaksionisme simbolik, sangat mengagumi kemampuan
manusia untuk menggunakan simbol; dia menyatakan bahwa orang bertindak
berdasarkan makna simbolik yang muncul di dalam sebuah situasi tertentu. Interaksionisme
simbolik membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada
individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan sosial.
George Herbert Mead lebih menekankan pada
bahasa atau simbol signifiksi. Simbol signifikasi adalah suatu makna yang
dimengerti bersama. Hal itu dikembangkan melalui interaksi yang pada dirinya
merupakan persoalan manusia yang berusaha untuk mencapai hasil-hasil praktis
dalam kerja samanya satau sama lain.
TEORI INTERAKSI SIMBOLIK, PROSES, MAKNA
DAN SIMBOL DALAM INTERAKSI
Teori interaksi simbolik
George Herbert Mead yang dikenal sebagai
penggagas utama teori interaksi simbolik. Dengan demikian, teori interaksi
simbolik yang menyatakan bahwa orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang
muncul dalam situasi tertentu. Terdapat juga dua pengertian mengenai
interaksionisme simbolik atau teori interaksi yang diutarakan oleh para ahli,
yaitu : Herbert Blumer mendefinisikan interaksionisme simbolik atau teori
interaksi simbolik sebagai sebuah proses interaksi dalam rangka membentuk arti
atau makna bagi setiap individu. Scott Plunkett mendefinisikan interaksionisme
simbolik sebagai cara kita belajar menginterpretasi serta memberikan arti atau
makna terhadap dunia melalui interaksi kita dengan orang lain.
Intinya pada teori ini merupakan sebuah
kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang
lainnya menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini sebaiknya membentuk
perilaku manusia. Orang tergerak untuk bertindak berdasarkan makna yang diberikannya
pada orang, benda, dan peristiwa. Makna-makna ini diciptakan dalam bahasa yang
digunakan orang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain maupun dengan
dirinya sendiri atau pikiran pribadinya.
Asumsi George Herbert Mead yang mendasari
teori interaksi simbolik antara lain :
1. Pentingnya
makna bagi perilaku manusia
Pada interaksi simbok berfokus pada
pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi
simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu
tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretatif oleh
individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat
disepakati secara bersama.
2. Pentingnya
konsep mengenai diri
Pada interaksi simbolik berfokus pada
pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi
simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut
secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya.
3. Hubungan antara
individu dengan masyarakat
Berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial.
Sumber Referensi :
Soedjatmoko, 2004, Kebudayaan Sosialis, Jakarta: Melibes.
Samovar, L.A., Porter, R.E & McDaniel E.R (2010). Komunikasi lintas budaya (Communication Between Cultures) (Indri Margaretha Sidabalok, Trans.). Jakarta : Penerbit Salemba Humanika.
Mulyana, Deddy dan Rahmat, Jalaluddin, 2005, Komunikasi Antarbudaya, Bandung: Rosda
Judith N dan Thomas K. Nakayama. 2004. Interkultural Communication In Contexts,Third Edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
Komentar
Posting Komentar